Saturday, September 8, 2018

#2 FULL BIOGRAFI KH SHOLEH DARAT ( Penulis Tafsir Quran Jawa Pegon - S...



H SHOLEH DARAT

Beliau adalah ulama besar sejaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Kholil bangkalan . Kealiman dan kewalian beliau tidak diragukan lagi. Puluhan kitab telah beliau tulis. Banyak ulama yang menjadi santri beliau diantaranya Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, Syaikh Ahmad Dahlan at-Tarmasi , Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari  dan KH. Ahmad
Biografi  :
Beliau  adalah Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani, yang dikenal dengan sebutan kiai  Soleh Darat, lahir di Kedung Cemlung, salah satu sebutan daerah di desa ngroto kec. Mayong , Jepara pada tahun 1235 H./1820 M., dan sedo/meninggal di Semarang pada Jum’at sore , pukul 17.00 wib, 28 Ramadhan 1321 H. atau 18 Desember 1903 M pada usia ke 83 tahun. nama DARAT adalah sebutan tempat mukim beliau yaitu pesantren perkampungan darat ( sekarang  kel. dadapsari semarang utara). Beliau di makamkan kompleks bergota semarang.

JEJAK PENDIDIKAN MBAH SALEH DARAT
Mbah sholeh darat adalah seorang ulama yang sangat memperhatikan orang-orang Islam awam dalam bidang agama. beliau menulis ilmu fiqih, aqidah, tasawuf dan akhak dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam pada masa itu, yakni dengan bahasa Jawa / huruf pegon.
Jejak pendidikan beliau dimulai dari ayahnya Kyai Haji Umar yang merupakan pejuang Islam kepercayaan Pangeran Diponegoro, selanjutnya ke
1.       KH Syahid, pesantren Waturoyo, Pati, Jawa Tengah
Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M. Syahid adalah cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749M). kepada Kiai M. Syahid ini, Kiai Shaleh Darat belajar beberapa kitab fiqih. Di antaranya adalah kiab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahab dan lain-lain.
2.      Kiai Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi, Kudus ( pp damaran , sekitar belakang kompleks makam sunan kudus saat ini)
Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti.
dicatat oleh beliau dalam kitab al-Mursyid al-Wajiz fi 'Ilmi al-Qur'ani al-'Aziz hal. 118 ketika menyebutkan guru-gurunya dan pentingnya sanad keilmuan. KH. Sholeh Darat dawuh:
.
"Nuli ingsun Ngaji Tafsir al-Jalalain lil 'Allamah as-Suyuthi wal Mahalli mareng SYAIKHONA AL-'ALLAMAH AZ-ZAHID KYAI RADEN HAJI MUHAMMAD SHOLEH BIN ASNAWI KUDUS, wahu kyai ngaji sangking kyai Muhammad Nur al-Madzkur lan sangking ramane, KYAI HAJI ASNAWI"
.
Artinya:
Kemudian saya belajar Tafsir al-Jalalain karya Allamah as-Suyuthi dan al-Mahalli kepada Syaikhona al-'Allamah yang zuhud, Kyai Raden Haji Muhammad Sholeh bin Asnawi Kudus. Kyai tersebut belajar dari Kyai Muhammad Nur (Sepaton Semarang) yang telah disebutkan (sebelumnya) dan dari abahnya, KH. Asnawi (Sepuh).

3.      Kiai Ishak Damaran, Semarang.
belajar Nahwu dan Sharaf.
4.      Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, seorang Mufti Semarang.
Untuk  ilmu falak.
5.      Kiai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Semarang.
belajar kitab Jauhar al-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-Abidin karya imam Ghazali.
6.      Syekh Abdul Ghani Bima, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri. Yaitu sebuah kitab yang beisi ajaran-ajaran dasar Islam yang sangat populer di Jawa pada abad ke-19 M.
7.      Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Bulus Gebang Purworejo
mempelajari ilmu-ilmu tasawuf dan tafsir al-Qur’an.

Ke MAKKAH
Selanjutnya kyai sholeh darat diajak sang ayah merantau ke Singapura, dengan harapan putranya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tinggi,
Beberapa tahun kemudian, bersama ayahnya, beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus tinggal disana untuk mendalami berbagai ilmu kepada beberapa ulama di Makkah pada zaman itu, diantaranya adalah
1.      Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki.
Untuk  ilmu-ilmu aqidah, khusunya kitab Ummul Barahin karya Imam Sanusi (al-Sanusi).
2.      Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah.
belajar fiqih kitab Fath al-Wahhab dan Syarh al-Khatib, serta Nahwu kitab Alfiyah Ibnu Malik.
3.      Al-‘Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Ihya’ Ulum al-Diin
4.      Al-‘Allamah Ahmad An-Nahawi al-Mishri al-Makki.
Kiai Shaleh Darat belajar al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
5.      Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, guru di Masjid Nabawi.
belajar kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 1 dan 2.
6.      Kiai Zahid.
kitab Fath al-Wahhab.
7.      Syekh Umar a-Syami.
belajar kitab Fath al-Wahhab.
8.      Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Syarh al-Tahrir karya Zakaria al-Anshari.
9.      Syekh Jamal, seoang Muftti Madzab Hanafiyyah di Makkah.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Qur’an.


Setelah sekian lama di makkah, kyai sholeh darat dinobatkan menjadi salah seorang pengajar di Tanah Suci tersebut., banyak muridnya yang berasal dari Tanah Jawa dan Melayu.
SAHABAT ULAMA MBAH SHOLEH
Semasa belajar di Makkah, Kiai Shaleh Darat banyak bersentuhan dengan ulama-ulama Indonesia yang belajar di sana. Di antara para ulama yang sezaman dengannya adalah:
1.      Kiai Nawawi Banten, disebut juga Syekh Nawawi al-Bantani.
2.      Syekh Ahmad Khatib. seorang ulama masyhur asal Minangkabau.
3.      syech Mahfuzh a-Tirmasi.
Ia adalah kakak dari Kiai Dimyati. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada Ahmad Zaini Dahlan. Ia wafat tahun 1338 H (1918 M).
4.      syech Khalil Bangkalan, Madura. salah seorang teman dekat Kiai Shaleh Darat. beliau belajar di Mekkah sekitar pada tahun 1860 m

PULANG KE JAWA
Setelah menetap di Makkah selama beberapa tahun untuk belajar dan mengajar, Mbah Saleh Darat  Bersama kyai hadi girikusumo  ( pendiri pp ki ageng girikusumo mranggen demak ) terpanggil hatinya untuk pulang ke Semarang karena bertanggung jawab dan ingin ber-khidmat terhadap tanah air.  Ada cerita unik terkait kepulangan beliau berdua dari mekah .
Menikah
Selama hayatnya, Kiai Shalih Darat pernah menikah tiga kali.
1.       ketika beliau masih berada di Makkah,  dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.
2.       Istri beliau ,  Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, menikah setelah kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. Dari kedua putranya ini, telah melahirkan beberapa anak dan keturunan yang bisa dijumpai hingga kini.
3.       puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, beliau dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah. Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Dahlan santri Kiai Shalih Darat dari Tremas, Pacitan.
                                                                                                                                             


MENDIRIKAN PONDOK PESANTREN
Sebagaimana tradisi ulama nusantara, setelah pulang dari Makkah harus mendirikan pusat pengajian berupa Pondok Pesantren. Mbah Saleh mendirikan pondok pesantren di daerah darat pesisir kota Semarang sekitar 1870-an ( sumber tahun didasarkan  karya kitab al hikam beliau , yg rampung pada 1289/1871M). Sejak itulah beliau dipanggil orang dengan gelar Kyai Saleh Darat Semarang. Terkenal sebagai pendiri pesantren nama beliau semakin berkibar di seantero Jawa, terutama Jawa Tengah. Diantara murid-murid beliau yang menjadi ulama tersohor adalah:
1.    KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)
2.    Syekh Mahfudz At-Turmusi (Ulama Besar Madz-hab Syafi’i yang ahli dalam bidang hadits).
3.    KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)
4.    KH. Bisri Syamsuri (Pendiri Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang).
5.    KH. Idris (Pendiri Pondok Pesantren Jamsaren, Solo)
6.    KH. Sya’ban (Ulama Ahli Falak di Semarang)
7.    KH. Dalhar (Pendiri pondok pesantren Watuco-ngol Muntilan, Magelang).
8.    Kyai munawwir ,
9.   KR dahlan tremas ,ahli falak
10 kyai dimyati tremas
11. Raden Ajeng Kartini, yang menjadi simbol kebang-gaan kaum wanita Indonesia. dsb

Karya kitab MBAH SALEH DARAT , 13 kitab  berbahasa jawa yg berhasil di kumpulkan,  
1.    Majmu’ah Asy-Syari’ah Al-Kafiyah lil-Awam, ilmu fiqih ditulis bhs jawa dan arab pegon
2.    Al-Hikam, tentang ilmu tasawuf, terjemahan dlm bhs jawa , dari kitab Hikam karya Syekh Ibnu Atho’ilah As-Sakandari.
3.    Kitab Munjiyat metik saking ihya ulumuddin al Ghazali,  tentang ilmu tasawuf, petikan penting dari kitab Ihya’ Ulumuddin juz 3 dan 4 karya Al-Ghazali.
4.    Kitab latha’if At-Thaharah, Berisi tentang hakikat dan rahasia shalat, puasa dan keutamaan bulan muharram, Rajab dan Sya’ban. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa.
5.    Kitab Faidhir Rahman, ditulis pada 5 rajab 1309h/1891 m. terbitkan di singapura.kandungannya merupakan terjemahan dari tafsir Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Kitab ini merupakan terjemahan dari tafsir Al-Qur’an yang pertama dalam bahasa Jawa di dunia Melayu. Menurut riwayat, satu naskah kitab tafsir tersebut pernah dihadiahkan kepada RA. Kartini ketika mrnikah dengan RM. Joyodiningrat (Bupati Rembang).
6.    Kitab Manasik Al-Hajj, kandungannya membicara-kan tentang tata cara mengerjakan haji.
7.    Kitab pasolatan, kandungannya membicarakan tentang tata cara sholat. Dlm bhs jawa dan arab pegon
8.    terjemahan Sabil Al-‘Abid ‘Ala Jauharah A
t-Tauhid, tentang aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah, asyariyah maturidiyah , dlm bhsa jawa
9.    al Mursyid Al-Wajiz, membahas ilmu alquran dan tajwid
10. Minhajul -Atqiya’, membahas tentang tasawuf dan akhlak.
11. Kitab Hadits Al-Mi’raj, membahas tentang perjala-nan Nabi Muhammad SAW isro miroj
12. Kitab Asrar As-Shalah, membahas tentang rahasia-rahasia shalat.
13. syarah maulid al burdah

Hampir semua karya Mbah Saleh Darat ditulis dalam bahasa Jawa dan menggunakan huruf Arab (Pegon atau Jawi), hanya sebagian kecil yang ditulis dalam Bahasa Arab bahkan sebagian orang berpendapat bahwa orang yang paling berjasa menghidupkan dan menyebarluaskan tulisan pegon (tulisan Arab Bahasa Jawa) adalah Mbah Saleh Darat Semarang….
Kini, Kiai Shaleh Darat memiliki sekitar 70 trah (keturunan) yang tersebar di berbagai daerah. Biasanya, dalam waktu-waktu tertentu mereka berkumpul dan bersilaturahmi di Masjid Kiai Shaleh Darat di Jln. Kakap/Darat Tirto, Kelurahan Dadapsari yang terletak di Semarang Utara.
Selain 13 kitab  karya Kiai Shaleh Darat tersebut,   Hingga kini, keturunan beliau terus melakukan pencarian dan penelusuran kitab-kitab beliau ke masing-masing keluarga keturunan Darat di Jepara, Kendal, bahkan sampai ke negara-negara Timur Tengah.
http://biografiulamahabaib.blogspot.com/2012/10/kh-sholeh-bin-umar-as-samarani-mbah.html
Read more ...